Thursday, February 14, 2013

cara membuat pelet apung

Cara membuat pelet apung 


Sekilas cerita tentang percobaan pembuatan pelet apung yang saya ketahui. Untuk mulai mencoba membuat pelet apung saya membeli alat mesin bekas di pasar templek Blitar. Mohon maklum karena saya tidak punya modal untuk membeli mesin pelet apung, jadi saya mencoba untuk merakitnya sendiri. Tahapan membuat pelet apung yang saya ceritakan kira-kira kurang bisa lepas dari proses Pencampuran ( Mixing ), Pengaliran Uap / Steaming (Conditioning), Pencetakan ( Extruding ), Pendinginan ( Cooling ).

Karena sedikitnya modal, saya mencoba potong kompas, proses yang saya lalui hanya Pencampuran ( Mixing ), Pencetakan ( Extruding ), Pendinginan ( Cooling ) dan hasilnya masih gagal. Disini mau lanjut lagi modal sudah habis. Tapi saya masih yakin tanpa melalui proses Pengaliran Uap / Steaming (Conditioning) pelet masih bisa mengapung.

Lanjut lagi, Proses pencampuran ( mixing ) harus digunakan agar berbagai macam bahan pelet dapat benar-benar tercampur homogen. Dan sedikit proses yang tidak saya lalui yaitu Pengaliran Uap / Steaming (Conditioning) atau bahasa mudahnya dikukus, berfungsi agar masing-masing partikel bahan termodifikasi matang dan mengembanf karena melepaskan gas CO2. Gas CO2 tersebut yang akan berfungsi sebagai pembuat pori-pori dalam pelet agar mengapung. Mungkin kalau ada cara lain untuk mengapungkan saya belum tahu, yang saya ceritakan adalah yang pernah saya coba.

Penambahan Jumlah kadar air kira-kira yang umum digunakan sekitar 4%-8% tergantung jenis bahan yang digunakan. Yang penting penambahan air dapat melembabkan bahan penyusun pelet, bukan basah. Dan agar bahan pelet terbantu mengembang saya memilih menggunakan Baking Powder atau memakai soda kue. Pernah saya mencoba memakai ragi saf instan, tetapi ikan nila tidak mau makan karena terasa kecut, hal ini terjadi karena proses fermentasi dari ragi tersebut. Agar proses fermentasi berhenti bisa saja dioven tapi saya kurang nyaman karena khawatir menambah kerusakan nutrisi bahan . Pelet hasil fermentasi untuk ikan gurami mau makan meski tanpa penambahan minyak ikan.Ada juga agar pelet mengapung menggunakan bahan jagung, dengan jumlah pemakaian sekitar 10-20 %, logikanya jagung bila terkena panas mengembang seperti popcorn, saya belum pernah mencobanya.

Dari sinilah saya kurang mantap memilih pelet apung, pernah ada teman tanya, mengapa kamu coba merakit mesin pellet apung kalau kurang suka ? saya jawab karena orang lebih suka mesin mahal, dan dari mahalnya orang lebih yakin manfaatnya. Menurut saya, logika liniernya memang jalan fungsi pelet apung adalah untuk mudah dicernakan karena sudah matang dan steril karena sudah melewati pemasakan. Tetapi seperti ada yang mengganjal, karena rasanya seperti membuatkan kue untuk ikan, kue itukan flavournya enak,lezat dan pada umumnya crispy. Tetapi apa benar nutrisinya masih bagus dalam pelet apung tersebut bila telah melewati berbagai proses pemanasan seperti dalam proses steaming, extruding dan kadang ada yang masih pasang pengering oven?. Lepas dari itu semua, menurut saya pelet apung lebih berfungsi sebagai media pembawa obat atau suplemen, yaitu diberikan dengan cara disemprotkan atau direndam dalam larutan suplemen atau obat.

Lanjut lagi, bahan pengembang Baking Powder umumnya digunakan 0,3%-0,4% tergantung bahan penyusun peletnya. Bahan akan lebih mengembang bila ditambahkan Tepung Terigu Cakra, karena kadar amilosanya yang rendah dan kandungan glutennya yang tinggi. Dalam ilmu Kue semakin tinggi kadar gluten maka semakin besar mengembangnya bahan.

Tahap berikutnya pencetakan ( Extruding ), yang saya ketahui pencetakan menggunakan alat extruder dan tentang granulator saya belum pernah mencoba. Mungkin kalau ada yang ingin mencoba membuat alat granulator sederhana bisa memakai mesin bor diberi mata pengaduk. Kemudian bahan diaduk dalam tabung (Barrel) dengan posisi horizontal sambil dialiri air, volume air disesuaikan, semakin banyak air semakin besar bentuk granulnya. Dan agar hasil bulat sempurna, bahan yang sudah mulai terbentuk keluar tabung langsung masuk ke rotary dryer. Kemudian di ayak ( screening ) untuk mendapatkan hasil granul ang diinginkan, kalau terlalu besar digiling lagi.

Lanjut lagi, extruder yang saya ketahui ada dua macam yaitu tipe roda dan tipe ulir ( screw ), extruder tipe roda prinsip kerjanya bahan didorong keluar cetakan ( dies ) oleh roda yang berputar. Sedangkan extruder tipe ulir yaitu membawa bahan kemudian dipadatkan diujung dies. Bedanya ada proses membawa bahan oleh kerja ulir, disini kerja ulir akan menghasilkan panas dan tekanan yang tinggi. Panas dihasilkan oleh kecepatan tinggi kerja ulir yang membawa bahan bergesekan dengan dinding tabung (barrel). Tekanan tinggi berasal dari pemampatan bahan yang akan keluar cetakan ( dies ). Karena sudah ada panas dan tekanan yang tinggi saya tidak menggunakan proses pengaliran uap. Bahan pellet akan mengembang dengan sendirinya karena panas dan beda tekanan pada waktu keluar cetakan. Disini kerja ulir yang saya buat mempunyai kecepatan putaran sekitar 3dtk-5dtk untuk satu kali proses membawa bahan sampai keluar cetakan.

Pendinginan ( Cooling ) dibutuhkan karena biasanya kadar air dalam pelet masih tinggi. Saya tidak memakai pengering ( Oven ) karena khawattir merusak nutrisi bahan pelet, selain itu pelet akan keras bila di oven. Pendinginan menggunakan tabung yang di putar agar pengoperasian dapat berkelanjutan, dan kemudian di hisap oleh vacuum fan agar uap air dapat terambil maksimal. Sebaiknya sebelum pendinginan disemprot ( fogging ) minyak ikan, karena kadang ikan tidak mau makan bila tidak ada bau perangsang minyak ikan. Bila ada yang ingin mencoba merakit mesin pelet perhatikan dan hitung dengan cermat tentang perkiraan Tenaga dan rasio putaran mesin, bentuk,panjang dan diameter ulir serta jumlah lubang cetakan.

Sebelum anda mencoba membuat pelet atau budidaya ikan pastikan budget sudah benar-benar anda siapkan. Karena kalau bisa jangan seperti yang pernah saya alami, semua usaha membutuhkan proses, kesabaran dan keuletan kunci sukses usaha anda. Saran saya pastikan semua aspek bentuk pemasaran produk sudah anda kuasai, karena yang paling penting konsumen yang menentukan. Buat apa membuat mesin bila hasil pelet tidak sesuai dengan harapan, contoh kegagalan yang paling sering terjadi yaitu ternyata pertumbuhan bobot ikan budidaya tidak sesuai dengan harapan. 

http://ia-bambukuning.blogspot.com/2012/01/cara-membuat-pelet-apung.html

Wednesday, February 13, 2013

Teknik Budidaya Cacing Sutra untuk Pemula

Budidaya Cacing Sutra Dari Limbah Kolam Lele

Cacing sutra dikenal memiliki kandungan gizi yang tinggi untuk ikan benih, sehingga mampu mempercepat pertumbuhan pada ikan. Namun sayang pasokan cacing sutra lebih banyak mengandalkan tangkapan dari alam sehingga sangat tergantung musim dan tidak bisa diandalkan. Budidaya cacing sutra telah banyak dilakukan para peternak ikan ,namun itu hanya untuk konsumsi sendiri, sehingga peluang usaha bisnis budidaya cacing sutra ini lumayan bagus. Ada satu cara unik dan menarik dalam budidaya cacing sutra yaitu dengan memanfaatkan limbah organik dari kolam lele konsumsi.
Adalah Suroto atau biasa dipanggil Otoy seorang pembenih dan petani pembesaran ikan lele dari Pringsewu, Lampung. Ia telah berhasil melakukan budidaya cacing sutra dari limbah organik ikan lele peliharaannya. Awalnya saat pemanenan ikan lele konsumsi timbul masalah membuang air limbah organik, air ini ditampung pada kolam yang kurang produktif, air bening pada bagian atas dibuang setelah 2 hari kemudian. Hal ini dilakukan berulang kali setiap panen lele, akhirnya secara tidak sengaja di kolam tersebut mulai muncul cacing yang terus berkembang. Cacing yang ada terus dipelihara dan dibudidayakan sampai saat ini.
Jika anda berminat untuk menekuni budidaya cacing sutra ini, beberapa tahapan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Persiapan Kolam Untuk Budidaya Cacing Sutra
Kolam yang kurang produktif (tidak dipakai untuk budidaya lele) di areal usaha pembesaran ikan lele dapat diperuntukan untuk budidaya cacing sutera dengan luas 60 – 100 m2 (disesuaikan dengan areal yang ada). Air limbah kolam pembesaran lele diaduk-aduk untuk selanjutnya dimasukkan dengan pompa (dengan menyedot) ke kolam budidaya cacing sutera.
2. Pengendapan Air
Air yang masuk di endapkan selama 3-5 hari, selanjutnya bagian atas endapkan air dibuang/diturunkan mencapai 5 – 10 cm dari permukaan lumpur. Lumpur diratakan dengan sorok/kayu untuk selanjutnya dibiarkan selama beberapa hari. Proses ini di ulangi 2 – 3 kali hingga lumpur halus yang ada di kolam cukup banyak.
3. Penebaran Benih
Indukan cacing sutra sebanyak 10 gelas (2-3 liter) ditaburkan kedalam lahan yang sudah siap dan diisi dengan air setinggi 5-7cm.
4. Perawatan Cacing Sutra
Selama masa pemeliharaan cacing sutra , air di usahakan tetap mengalir kecil dengan ketinggian air pada 5-10 cm. Setelah 10 hari biasanya bibit cacing sutra mulai tumbuh halus dan merata di seluruh permukaan lumpur dalam kolam. Ulangi lagi proses penambahan air buangan panen ikan lele ke dalam kolam budidaya cacing sutra maka setelah 2-3 bulan cacing mulai dapat dipanen.

PROSES PANEN CACING SUTRA

Cacing sutra akan tumbuh setelah 2 minggu biang cacing sutera ditebar atau > 2 bulan apabila tanpa penebaran biang cacing sutera. Panen pertama dapat dilakukan setelah cacing berumur > 75 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari. Ciri kolam budidaya cacing sutra yang siap untuk di panen adalah apabila lumpur sebagai media pemeliharaan terasa kental bila dipegang.
Waktu panen cacing sutera dilakukan pada pagi/sore hari dengan cara menaikkan ketinggian air sampai 50-60 cm agar cacing naik sehingga mudah dipanen. Cacing dan lumpur di keruk/aduk dengan caduk/garu dimasukkan dalam baskom kemudian dicuci dalam saringan.
Cacing yang terangkat masih bercampur lumpur, selanjutnya dimasukkan dalam ember/bak yang berisi air dengan ketinggian lebih kurang 1(satu) cm diatas media lumpur. Ember ditutup agar bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 1 – 2 jam.
Cacing akan bergerombol diatas media dan dapat diambil dengan tangan untuk dipisahkan dari media/lumpur. Cacing tersebut dimasukkan dalam bak pemberokan selama 10-12 jam. Cacing siap di berikan kepada benih ikan ataupun dijual.(Galeriukm).

Sunday, February 10, 2013

CARA MEMBUDIDAYAKAN CACING SUTRA



Banyak orang beranggapan bahwa cacing itu binatang yang menjijikkan. Tapi apakah cacing sutra ini sangat menjijikkan? Kali ini ide wirausaha kreatif akan membahas tentang cara ternak cacing sutra. Kenapa cacing sutra diternak? jawabannya karena cacing jenis ini sangat baik untuk pakan ikan.

Cacing sutra merupakan cacing yang berukuran sangat kecil. Cacing jenis ini merupakan cacing yang hidup dengan bergerombol sangat banyak di perairan yang jernih dan kaya bahan organik.
Bahan organik yang baik untuk cacing sutra yaitu campuran antara kotoran ayam, bekatul, dan lumpur.
Cara membudidayakan cacing sutra :
  1. Bibit
    Bibit cacing sutra dapat dibeli dari toko ikan hias yang menjual cacing sutra, bisa juga dari alam. Bibit cacing sutra di diamkan dulu kurang lebih satu hari sebelum penebaran.
  2. Media
    Dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap-tiap kubangan dibuat petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi tanggul 10 cm, antar tanggul diberi lubang dengan diameter 1 cm.
  3. Pemupukan
    Kubangan dipupuk dengan ampas tahu sebanyak 200 - 250 gr/m2 atau bisa juga dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/m2.
  4. Fermentasi
    Kubangan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
  5. Penebaran bibit
    Selama proses budidaya, kubangan dialiri air dengan debit 2-5 liter/detik.
Langkah-langkah membudidayakan cacing sutra :
  • Siapkan kubangan, usahakan kubangan bersih dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra dan dasar kubangan terbebas dari bebatuan atau benda-benda keras lainnya.
  • Pipa air pengeluaran di cek pastikan berfungsi dengan baik.
  • Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kilam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10cm.
  • Gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut, jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.
  • Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk.
  • Genangi kubangan.
  • Pasang atap berfungsi untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
  • Kubangan yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang (media sudah tidak beraroma busuk).
  • Tebarkan 0.5 liter gumpalan cacing sutra sebagai bibit, dengan cara menyiramnya terlebih dahulu didalam baskom agar gumpalannya buyar.
  • Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan dikubangan ke seluruh permukaan secara merata.
  • Kemudian atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3inci.
7. Panen
Cacing sutra siap untuk dipanen setelah 8-10 hari.

sumber: http://idewirausahakreatif.blogspot.com/2012/06/cara-budidaya-cacing-sutra.html#_

Friday, February 8, 2013

Riset

PEMBUATAN PAKAN PELLET
24/03/2011 - Kategori : Riset

      PEMBUATAN PAKAN PELLET
           I. PENDAHULUAN

           Biaya pakan dalam usaha budidaya ikan dibutuhkan sekitar antara 50 - 50% dari total 
           biaya produksi, sehingga perluadanya upaya untuk menahan biaya tersebut, dengan
           membuat pakan sendiri. Untuk mengatasi penyediaan pakan buatan (Pellet) dengan jumlah
           dan kualitas yang baik.

           Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan pellet yaitu :

  1. Pellet harus mudah dicerna oleh ikan.
  2. Mempunyai kandungan gizi yang cukup, terutama kandungan proteinnya harus diatas 25, selain itu harus juga mengandung lemak. Vitamin, mineral, zat kapur dan karbohidrat.
  3. Pellet harus mempunyai daya apung serta tidak cepat hancur di air.
  4. Pellet harus dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.


    II. PERALATAN DAN BAHAN

    1. PERALATAN

        Peralatan untuk membuat pakan Pellet secara sederhana, praktis dan mudah  
        diantaranya adalah dengan menggunakan gilingan daging yang dimodifikasi, nampan
        plastik, ayakan, gayung plastik, ember plastik, kipas angin dan tmbangan.

    2. BAHAN

        Bahan untuk membuata palakn Pellet terdiri dari dua kelompok yaitu baku pokok dan 
        bahan tambahan (Suplemental feeds). pemilihan bahan baku sebaiknya dipilih :
        - Murah dan mudah diperoleh.
        - Bergizi tinggi.
        - Mudah mengolahnya.
        - Tidak mengandung racun.

    Bahan baku yang dipakai :

    a. Tepung Ikan

        Ciri-ciri tepung ikan yang baik kwalitasnya diantaranya adalah secara visual bersih tidak
        terkontaminasi oleh kutu atau serangga lain berbau khas seperti ikan kering, berwarna
        kuning kecoklatan, kering tidak lembab, tidak bau apek, tengik atau asam.  kandungan
        tepung ikan yang baik mempunyai kadar proten antara 55,70%.

    b. Bungkil Kelapa


        Yaitu ampas kelapa yang sudah dikeringkan dan sudah berbentuk tepung.

    c. Dedak Halus

        Diperoleh dari limbah pabrik penggilingan padi.

    d. Tepung Kedelai

    e. Tepung Jagung


    f. Tepung Tapioka

    Keunggulan Pellet buatan sendiri :

    - Harga menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan harga yang kita beli di toko.
    - Selalu dalam keadaan baru.
    - Ikut membantu dalam mengurangi pencemaran akibat limbah pabrik.


    III. CARA PEMBUATAN PELLET

    a. Memprsiapkan bahan baku, menyusun jumlah setiap komponen dan menimbang.


        Dengan susunan formulasi seperti tabel :


     No Bahan
    Pakan
    Knadungan
    Protein
    Kandungan
    Lemak
    II III
     1Tepung Ikan62.99 8.4 352535
     2Tepung Kedelai 36,6 14.30 55 5
     3Bungkil Kelapa 18.46 15.73 15 15 15
     4Tepung Jagung10.40 0.53 10 10 10
     5Dedak Halus 15.58 6.8 30 35 30
     6Tepung Tapioka 2.6 2.6 15 10 10
     7Vitamin 1 11
     8Mineral 2 2 2



    b. Mencampur bahan-bahan seperti tepung ikan, tepung kedelai, bungkil kelapa, dedak
        halus,tepung jagung satu wadah hingga merata, pada wadah yang terpisah dicampur
        pula dengan vitamin mix dan mineral mix. Kemudian kedua wadah tersebut dicampurkan
        hingga merata.

    c. Buat perekat dari tepung sagu dengan volume air 500 ml untuk 1 Kg pakan setelah
        merata dan kental kemudian dicampurkan dengan campuran bahan baku seperti pada
        huruf b diatas kemudian diaduk sampai merata.

    d. Membentuk adonan pakan diatas menjadi gumpalan-gumpalan untuk memudahkan  
        dalam proses pencetakan pellet.

    e. Pencetakan pelet dengan mesin/alat pellet disesuaikan dengan piringannya dengan  
        diameter pellet yang dikehendaki.

    f.  Pengiriman pellet bisa dengan menggunakan oven 600C selama 24 jam atau diangin-
        anginkan/dijemur hingga kering.

    g. Mengemas pakan dan menyimpannya ditempat dingin dan kering.


    Khusus untuk ikan patin pemberian pakan/hari untuk 1000 ekor bisa dilihat dari contoh berikut :

    - Untuk masa pemmeliharaan :

    - 4 Bulan pellet apung
    - 2 Bulan tenggelam.


    SUMBER : DINAS PERTANIAN, PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN KOTA JAMBI

Monday, February 4, 2013

Cara / Langkah sukses budidaya lele

Bisnis budidaya lele yang menguntungkan, mampu memberikan untung yang cukup besar. Ikan lele termasuk salah satu ikan yang budidayanya cukup mudah dan pertumbuhannya sangat cepat. Sehingga banyak para pelaku bisnis yang memilih lele untuk dibudidayakan.
1. Proses Pemijahan
Proses pemijahan untuk mengawinkan lele jantan dan lele betina tidaklah sulit. Pemijahan yaitu proses mempertemukan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Proses ini biasanya dilakukan pada kolam – kolam khusus pemijahan, dengan mencampurkan lele jantan dan lele betina yang sudah memenuhi syarat tertentu.
Syarat indukan jantan :
  • Kepala induk jantan lebih kecil dari betinanya, serta tulang kepalanya gepeng
  • Warna kulit dada induk jantan lebih tua dibandingkan yang betina, serta kulitnya lebih halus daripada betina
  • Kelamin jantan menonjol, memanjang ke arah belakang dibelakang anus dengan warna kemerahan
  • Perut indukan jantan lebih langsing dan kenyal dibanding induk betina
  • Gerakan lele jantan lebih lincah dibandingkan yang betina
Syarat indukan betina :
  • Kepalanya lebih besar dibandingkan induk betina
  • Warna klit dada lele betina lebih terang dibandingkan yang jantan
  • Kelamin induk betina berbentuk oval dan berwarna kemerahan, lubangnya lebar dan letaknya di belakang anus. Biasanya sel telur yang telah matang berwarna kuning
  • Untuk induk betina biasanya geraknya tidak selincah induk jantan
  • Perutnya lebih gembung dari induk jantan
Selama proses pemijahan indukan lele diberi makanan yang memiliki kadar protein cukup tinggi. Setelah diberikan protein yang cukup tinggi, induk betina  siap untuk dibuahi. Sel telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi anakan lele setelah 24 jam. Setelah berumur satu minggu pisahkan hasil anakan dengan induk betina, sedangkan untuk pemindahan anakan setelah anakan berumur dua minggu.
Cara Pemindahan anakan lele :
- Mengurangi air di sarang pemijahan hingga tinggi air berkisar antara 10 cm sampai 20 cm
- Menyiapkan tempat penampungan ( baskom atau ember ) yang telah diisi air dari kolam pemijahan
- Samakan suhu kolam anakan dengan suhu kolam pemijahan
- Pindahkan anakan dari kolam pemijahan menggunakan cawan atau piring
- Kemudian pindahkan anakan ke kolam pendederan dengan hati – hati pada maalm hari, karena masih rentang terhadap tingginya suhu air
2. Pembudidayaan
Proses pembudidayaan adalah proses pembesaran bibit lele hingga berukuran siap jual berkisar antara 5 cm hingga 12 cm. Setelah anakan dipisahkan ke dalam kolam pendederan, usahakan kolam diberikan pelindung dari tingginya suhu. Biasanya dapat menggunakan penutup plastic atau menggunakan tanaman enceng gondok sebagai tanaman pelindung.
Selain pengaturan suhu kolam, dalam proses pendederan anakan ikan lele sudah boleh diberikan makan. Bisa berupa pakan alami seperti jentik jentik, kutu air, cacing kecil atau plankton yang dapat diberikan saat anakan lele berumur kurang dari 3- 4 hari. Setelah berumur 3 – 4 hari, anakan lele diperbolehkan diberikan makanan buatan dengan kadar protein serta nutrisi yang cukup tinggi. Dengan menambahkan POC NASA yang mengandung mineral penting serta protein dengan dosis  1 – 2 cc / kg pakan yang telah dicampuri sedikit air.
Untuk hasil maksimal, seekor lele dapat dipanen setelah umur 6 hingga 8 bulan. Namun kurang dari waktu tersebut, lele telah dapat dipanen jika beretnya telah mencapai 200 gram per ekor.
Sumber : http://bisnisukm.com

Tuesday, January 8, 2013

 Proses penimbangan benih ikan lele
 Pengiriman benih ikan lele dari Balai Benih Indonesia (BBI) sebanyak 65rb ekor dan ditanam dalam 3 tahap. (tahap pertama 20rb ekor).
 Proses penimbangan dan penghitungan tiap ekor benih lele
 Penurunan benih lele dari jerigen
Benih yang sudah ditabur, di atur pengaturan airnya